Senin, 03 Agustus 2015

Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh



Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh

Kamis,  4 Agustus 2015  −  09:07 WIB

IST
JAKARTA - Kinerja perbankan selama enam bulan tahun ini tetap tumbuh, meski dibayangi perlambatan ekonomi. Perbankan dapat mempertahankan kinerja keuangan yang positif dengan fokus menjaga posisi likuiditas, kualitas kredit, dan permodalan.

PT Bank Central Asia (BCA) Tbk pada semester I/2015 mencatat laba bersih sebesar Rp8,5 triliun, naik 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp7,9 triliun. ”Peningkatan biaya overhead sebagai dampak dari ekspansi jaringan dan pelemahan nilai tukar rupiah, serta adanya peningkatan biaya tenaga kerja dapat diimbangi oleh terjaganya marjin bunga bersih sehingga secara keseluruhan kami dapat mempertahankan profitabilitas dengan baik,” ujar Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat paparan kinerja perseroan di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, perseroan mencatat pendapatan operasional baik pendapatan bunga bersih maupun pendapatan operasional lainnya meningkat 14,2% menjadi Rp22,6 triliun di semester I/2015. Hal ini berhasil meningkat dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp19,8 triliun.

”Kami menyalurkan kredit sebesar Rp347,1 triliun di semester I/2015 atau mengalami pertumbuhan 8% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp321,4 triliun,” ungkapnya. Jahja mengungkapkan, raihan outstanding portofolio kredit sebesar Rp347,1 triliun di akhir Juni tahun ini.

Kinerja ini diperoleh dari dorongan penyaluran kredit di sektor seperti konsumer, dan komersial, serta UKM. Khususkreditkonsumertercatat mengalami pertumbuhan 9,2% secara year on year (YoY) atau menjadi Rp96,4 triliun di semester I/2015. ”Pencapaian ini dapat terjadi lantaran BCA menawarkan produk konsumer di level yang kompetitif,” ujarnya.

Segmen konsumer khususnya didukung dari portofolio KPR mengalami peningkatan sebanyak 7,7% menjadi Rp56,9 triliun di akhir Juni 2015. Portofolio kredit kendaraan atau KKB mengalami peningkatan sebanyak 11,6% menjadi Rp30,5 triliun. Sementara itu, posisi outstanding kartu kredit meningkat 10,5% menjadi Rp9 triliun.

Posisi penyaluran kredit komersial dan UKM mengalami kenaikan sebanyak 8,3% menjadi Rp137,5 triliun. Adapun kredit korporasi tercatat mengalami kenaikan sebanyak 6,4% menjadi Rp113,2 triliun.. PT Bank Permata Tbk mencatatkan peningkatan kinerja operasional di tengah-tengah kondisi ekonomi makro selama enam bulan tahun ini.

Direktur Keuangan Bank Permata Sandeep Jain menjelaskan, total pendapatan operasional naik 21% (yoy) menjadi Rp4,23 triliun, didorong oleh pertumbuhan yang sehat pada pendapatan bunga bersih.

Selain itu, juga berkat pertumbuhan yang baik pada pendapatan berbasis biaya (fee based income). ”Pendapatan bunga bersih tumbuh menjadi Rp3,13 triliun dari Rp2,69 triliun di tahun sebelumnya didorong perbaikan margin bunga bersih,” ujar Sandeep dalam siaran pers kemarin di Jakarta.

Dia mengatakan, dorongan juga dari pendapatan berbasis biaya (fee based income) yang naik menjadi Rp1,1 triliun dari Rp815 miliar di tahun sebelumnya. Di tengah melambatnya kegiatan ekonomi secara umum, total aset per 30 Juni 2015 mencapai Rp187 triliun, tetap naik 5% yoy dari Rp177 triliun pada tahun sebelumnya. ”Laba bersih setelah pajak menjadi sebesar Rp837 miliar, yang meningkat 5% (yoy) dari Rp801 miliar pada periode yang sama tahun 2014,” ujarnya.

Sementara itu, kredit termasuk pembiayaan syariah tumbuh 2% menjadi Rp130 triliun pada akhir Juni 2015. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh bisnis UKM dan segmen lokal serta middle market corporates yang ditopang oleh trade finance dan produk pinjaman.


Post : Rio

Kenaikan Harga BBM Ditunda



Kenaikan Harga BBM Ditunda

Senin,  4 Agustus 2015  −  09:05 WIB

IST
JAKARTA - Pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) dengan menyiapkan skema petroleum fund. Sehingga pemerintah menunda kenaikan harga BBM yang rencananya dilakukan bulan ini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menegaskan bahwa saat ini dana stabilisasi harga BBM sudah disiapkan. Menurutnya, penyesuaian harga BBM ada baiknya dilakukan per enam bulan atau tidak lagi dilakukan dalam kurun waktu 1-3 bulan.

”Dana (petroleum fund ) sudah disiapkan, jadi Agustus tidak ada kenaikan harga BBM,” kata dia di Jakarta kemarin. Menurut dia, periode penetapan harga BBM selama enam bulan dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi di masyarakat. Pemerintahbaru akan meninjau kembali harga BBM pada November mendatang. ”Harga BBM akan ditinjau lagi November akan seperti apa,” ujarnya.

Dia menyatakan, menjaga stabilitas harga BBM sebagai upaya pemerintah untuk mengantisipasi kerugian PT Pertamina (persero) dalam menjual dan melaksanakan tugas distribusi BBM jenis premium karena tidak sesuai dengan harga keekonomian.

Pertamina telah mengalami kerugian mencapai Rp12 triliun akibat menjual BBM penugasan jenis premium, belum lagi ditambah kerugian menjual BBM subsidi jenis solar sebesar Rp500 miliar sehingga jika ditotal kerugian mencapai Rp12,5 triliun.

”Kalau dilihat dari kerugian, Pertamina sekarang telah mengalami defisit karena menjual lebih rendah dari harga keekonomian. Tapi, saat ini kami ingin mendapatkan stabilitas harga terlebih dahulu, memang yang namanya kebijakan terkadang tidak bisa memuaskan semua orang,” ungkap dia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja Puja mengatakan, stabilitasi harga BBM melalui petroleum fund masih dalam kajian lebih lanjut. Petroleum fund diperkirakan baru akan realisasi pada 2016 karena masih menunggu persetujuan Komisi VII DPR.

Lebih lanjut dia mengatakan, penetapan skema juga masih dalam pembahasan, apakah nantinya akan dikelola oleh Kementerian Keuangan, Badan Layanan Umum, atau Pertamina sebagai pelaksana distribusi. Sumber pendanaan juga masih dalam pembahasan, apakah nantinya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dengan menata pajak seperti di Thailand dan Malaysia.

”Secara ide besar nanti ada yang di hilir ada yang di hulu. Di hulu untuk eksplorasi. Kalau di hulu, begitu dijual wilayah kerja langsung mendapatkan dana,” jelasnya. Ide besar dari petroleum fund yakni pengambilan pajak dari kegiatan sektor migas.

Adapun, 0 di sektor hilir ada distribusi yang nantinya digunakan menahan stabilitas harga BBM sedangkan di hulu untuk kegiatan eksplorasi. ”Saat harga minyak tinggi pajaknya direndahin, ketika harga minyak rendah pajaknya ditinggiin. Sehingga, harga BBM agak landai, tidak terlalu tajam pergerakannya,” kata dia.

Direktur Eksekutif Rofor- Miners Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan perlu payung hukum apabila ingin menerapkan petroleum fund sebagai wujud ganti rugi badan usaha dalam melaksanakan tugas pemerintah melakukan distribusi BBM. Bila tidak, akan bermasalah dalam transparansi dan akuntabilitasnya. Pengamat energi dari Universitas Trisakti ini pun menegaskan, masih terjadi inkonsistensi dalam penerapan kebijakan harga BBM.

”Kebijakan harga BBM khususnya premium dan solar sebaiknya lebih dipertegas. Apakah disubsidi atau akan secara periodik disesuaikan dengan perkembangan tingkat harga keekonomian yang dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia dan kurs rupiah,” tutupnya.


Post : Rio

Ekspor Motor Diperkirakan Naik



Ekspor Motor Diperkirakan Naik

Rabu, 4 Agustus 2015  −  09:02 WIB

IST
JAKARTA - Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) optimistis ekspor sepeda motor meningkat 100% pada tahun ini.

Jika pada tahun lalu ekspor sepeda motor mencapai 43.000 unit, tahun ini ditargetkan mendekati 100.000 unit. Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata mengatakan, pasar ekspor akan terus tumbuh karena adanya pasar baru dengan harga yang kompetitif dan modelnya atraktif. ”Kita bersyukur bahwa kita masuk ke pasar-pasar yang baru dari Eropa, seperti Jerman, Belanda, Inggris. Kalau ASEAN, justru kecil,” ujarnya ketika ditemui di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurutnya, peningkatan ekspor sepeda motor dikarenakan tren yang sedang terjadi di negara lain. Jika biasanya negara maju menjadikan motormotor besar sebagai andalan, mereka menggunakan motor kecil untuk kepentingan terbatas. ”Saya pikir ini tren yang rasional. Motor besarnya untuk touring , untuk kebutuhan senang- senang, sementara kebutuhan motor kecil dipergunakan untuk kepentingan yang lebih terbatas,” tuturnya.

Gunadi melanjutkan, pasar baru untuk ekspor sepeda motor tidak hanya di Eropa, namun juga sudah masuk ke Australia dan Jepang. ”Hampir semua APM (agen pemegang merek) kendaraan sudah melakukan ekspor tapi yang paling besar Suzuki ke Eropa,” imbuhnya.

Gunadi menambahkan, ekspor sepeda motor bisa saja meningkat 300% jika pemerintah memberikan dukungan dan kebijakan yang tepat. ”Saya perkirakan, ini akan berlipat ganda untuk sepeda motor,” tandasnya.


Post : Rio

BI Waspadai Kenaikan Kredit Bermasalah



BI Waspadai Kenaikan Kredit Bermasalah

Kamis,  4 Agustus 2015  −  09:00 WIB

AGUS DW MARTOWARDOJO - Gubernur BI
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus mewaspadai beberapa sektor yang dinilai berpotensi memiliki kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan. Peningkatan rasio NPL disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit serta meningkatnya jumlah kredit bermasalah secara nominal.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, lemahnya pertumbuhan ekonomi juga menjadi faktor penyumbang perlambatan kredit sehingga berdampak pada kenaikan rasio kredit bermasalah. Dia menuturkan, sektor yang perlu diwaspadai NPL meliputi sektor perdagangan, pertambangan, serta pengolahan. ”Memang NPLnya ada sedikit peningkatan dan untuk itu kami yakin bankbank akan berikan perhatian. Ini karena secara gross sudah meningkat di atas 2,5%.

Jadi memang perlu diwaspadai, terutama ketiga area tersebut,” kata Agus di Jakarta kemarin. Tapi secara umum, sektor perbankan memiliki likuiditas yang terjaga. Bukan hanya itu, sektor perbankan di nilai memiliki kualitas dari pertumbuhan kredit di atas 10% serta memiliki rasio kecukupan modal berada di kisaran 20%.

”Sebetulnya ini hanya sektor-sektor tertentu yang perlu diwaspadai dan kami meyakini dengan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kondisi dari perbankan kita akan terjaga dengan sehat,” paparnya. Bank sentral juga meyakini rasio NPL masih dalam batas aman karena masih jauh di bawah batas yang ditetapkan yakni 5%. Di sisi lain, Agus menilai inflasi pada bulan Juni 2015 yang berada pada angka 0,54% lebih baik dari yang diperkirakan Bank Indonesia.

Pada bulan Juli minggu pertama, BI memperkirakan, inflasi berada di kisaran 0,46% namun di keseluruhan bulan Juli inflasi diprediksi bergerak di bawah 7%. ”Saya belum update untuk minggu ketiga Juli, karena yang minggu pertama itu di 0,46% dan kita justru melihat pengendalian inflasi di Juni cukup baik. Tetapi, tentu kita masih melihat nanti, karena ada Lebaran, sehingga mungkin masih akan ada peningkatan,” paparnya.

Agus melanjutkan, pada minggu pertama akan ada tekanan di harga beras, daging ayam, serta cabai rawit. Tetapi, harga telur dan bawang terlihat dalam kondisi terkendali. Secara umum, Bank Indonesia menyatakan, inflasi masih terkendali dengan baik seiring dengan neraca perdagangan pada bulan Januari-Juni yang surplus.

”Apa yang kita capai seperti inflasi yang terkendali, neraca perdagangan surplus, dengan defisit transaksi berjalan atau CAD yang mengarah ke bawah 2,5%, ini bisa memperkuat fundamental kita,” tandas dia. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad memperkirakan, pertumbuhan kredit akan mengalami sedikit perlambatan pada tahun 2015. Meski melambat, secara rasio kredit bisa meningkat.

Selain itu, kata Muliaman, ada beberapa sektor yang telah mengalami peningkatan kredit bermasalah (NPL). Tetapi, peningkatan NPL pada beberapa sektor tersebut terbilang wajar karena permintaan yang kecil dan pertumbuhan kredit yang menurun. ”Tapi, yang paling penting bagi kesehatan bank, apakah memiliki cukup cadangannya untuk meng-cover pemburukan itu. Saya sudah mempersiapkan itu dengan baik. NPL net itu tetap sangat kecil,” tutur Muliaman.


Post : Rio 

Belanja Negara Harus Digenjot



Belanja Negara Harus Digenjot

Kamis,  4 Agustus 2015  −  08:58 WIB

IST
JAKARTA - Pemerintah diminta secepatnya meningkatkan belanja negara dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, pelambatan ekonomi saat ini semakin menekan dunia usaha di dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini telah memengaruhi daya beli masyarakat, dan pada akhirnya berimbas pada sektor industri di dalam negeri.

”Pelemahan rupiah memengaruhidaya belimasyarakat. Semua kebutuhan masyarakat yang sifatnya sekunder (jadi) tidak banyak dibeli, seperti mobil, motor, dan barang-barang sekunder lainnya, (dunia usaha) sepi,” ujar Ade di Jakarta kemarin. Karena itu, Ade berharap belanja pemerintah dapat digenjot untuk mengompensasi hal tersebut.

Menurut dia, sektor industri bergantung pada serapan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Namun, saat ini serapan anggaran bahkan belum mencapai 30%. ”Investasi juga. Iklim industri juga harus diperbaiki secara total seperti perizinan, pelabuhan, tol, dan lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah.

Pemerintah, tegas dia, bersama otoritas moneter telah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk menjaga nilai tukar rupiah. ”Saat ini kita juga fokus meningkatkan kemampuan ekonomi domestik, khususnya produktivitas industri nasional dan perbaikan kinerja ekspor. Tapi yang tidak bisa kuasai adalah harga komoditas yang turun itu,” ucapnya.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak terhadap kondisi fiskal. Pasalnya, anggaran negara tidak lagi dibebani pos subsidi bahan bakar minyak (BBM) seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meski anggaran pemerintah tak terdampak setelah subsidi premium ditiadakan, PT Pertamina( persero) disisi lain terpaksa harus menanggung kerugian Rp12 triliun akibat harus menjual premium di bawah harga pasar.

Post : Rio